Agustus 2016



Nota merupakan alat bukti transaksi yang diberikan oleh penjual kepada pembeli atas pembelian barang secara tunai. Nota berfungsi sebagai bukti pengeluaran uang oleh pembeli, sedangkan nota bagi penjual berfungsi sebagai bukti penerimaan uang. Faktur adalah tanda bukti telah terjadi pembelian atau penjualan secara kredit.

Nota bisa juga disebut bon. Atau, nota juga bisa disebut faktur. Nama-nama tersebut sangat erat kaitannya dengan kebiasaan masyarakat Indonesia. 

Terlepas dari kebiasaan tersebut, nota sebagai alat bukti transaksi dalam perdagangan atau transaksi jual beli, baik barang maupun jasa. 

Nota biasanya dua atau tiga rangkap. Hal itu tergantung kebutuhan si pembuat nota. Nota bisa juga dibeli di toko-toko alat kantor yang sudah jadi dan sederhana. Namun, nota dapat dibuat oleh si pemilik perusahaan atau pelaku usaha tersebut sebagai alat transaksinya dalam berbisnis. 
Kedua jenis nota tersebut pastinya memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dari nota yang sudah jadi (yang dijual di toko-toko alat kantor) mudah didapat dan dapat dibeli setiap saat. Sehingga ketika nota habis, maka si pelaku usaha dapat langsung beli di toko alat kantor dengan mudah. Namun, kelemahannya adalah nota tersebut tidak mencantumkan nama dan alamat perusahaan tersebut. Sehingga terkadang pembeli atau orang lain yang melakukan transaksi usaha dengan pengusaha tersebut kurang begitu yakin atas usaha yang dijalankannya. 

Sedangkan nota yang dibuat pastinya banyak kelebihannya. Dimana nota dapat dicetak dengan masal dan banyak. Sehingga dalam jangka beberapa waktu, si pengusaha tidak perlu lagi membeli nota di toko alat kantor. Kelebihan lain adalah nota memiliki nama, logo, alamat serta spessifikasi barang dan jasa yang dijual ke pelanggan. Dengan begitu, nota lebih memberikan keyakinan kepada konsumen dalam melakukan transaki bisnis dengan kita. Sedangkan kelemahannya adalah karena nota dicetak masal, maka si pengusaha harus mengeluarkan uang lebih besar dibandingkan dengan membeli satuan di toko alat kantor. Namun, kalau dihitung satuan maka nota lebih murah dicetak daripada beli satuan. 

Nota biasanya berbahan dasar kertas NCR. Warna paling atas adalah putih. Sedangkan warna rangkap ke dua dan ke tiga biasanya tergantung pemesan. Artinya tergantung selera masing-masing pengguna. Warna yang biasanya dipakai adalah warna merah, kuning, atau hijau. 

Cetak nota minimalnya adalah satu rim. Jika ukuran nota adalah A5, maka satu rim menjadi 20 buku nota. Jika dibagi 4, maka satu rim bisa mencapai 40 buku. sedangkan jika dibagi 3, maka satu rim menjadi 30 buku. Satu buku berisi 50 transaksi. 

Jika Anda ingin mencetak nota, maka bisa saja Anda datang ke percatakan dengan membawa desain yang Anda inginkan. Atau, jika Anda sibuk dengan aktivitas, maka Anda bisa menghubungi kami. Karena kami juga melayani order cetak nota. Anda tidak perlu datang ke kantor kami. Bisa berkomunikasi lewat E-mail, Medsos seperti FB, atau via telpon dan sms. 





Tampaknya jelas bahwa ukuran dan sumber daya organisasi memiliki dampak yang luar biasa tentang bagaimana komputasi adalah untuk dikelola pemerintah, tetapi ada sedikit penelitian (Catatan: Brudney & Selden, 1995, adalah salah satu pengecualian) yang ditujukan untuk mempelajari pemerintah lebih kecil dalam penelitian empiris atau literatur manajemen pada komputasi pemerintah.

Literatur yang tidak ada tentang komputasi cenderung untuk fokus pada organisasi besar seperti negara bagian dan kota-kota besar (misalnya, Barrett & Greene, 2001). Tapi banyak instansi pemerintah yang kecil dengan minimal, dan kadang-kadang tidak ada, penuh-waktu staf IT profesional. Namun mereka dihadapkan dengan berurusan dengan banyak tuntutan yang sama seperti organisasi pemerintah yang besar seperti e-government, perlu untuk integrasi data, dan jaringan.

Organisasi kecil memiliki keberhasilan penting dan telah menjadi pemimpin dalam beberapa aspek IT.  

Tapi ukuran dan sumber daya melakukan administrasi TI pengaruh. Dalam organisasi kecil, manajer generalis harus memainkan peran penting tidak hanya untuk kepemimpinan tetapi juga untuk berurusan dengan vendor dan konsultan dan membuat keputusan tentang apakah akan mengadopsi teknologi baru yang mahal seperti GIS. 


Jenis Bantuan dan Prasarana Tahun 2016

Berikut ini disajikan Petunjuk Teknis Bantuan Sarana dan Prasarana Tahun 2016, yang meliputi:

Petunjuk Teknis Bantuan Pembangunan Kelas Baru Tahun 2016

Petunjuk Teknis Bantuan Pembangunan Ruang Perpustakaan Tahun 2016

Petunjuk Teknis Bantuan Rehabilitasi Ruang Kelas Tahun 2016

Sumber: Direktorat Pendidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemener RI (http://madrasah.kemenag.go.id)





Kriteria Buku yang memuat hasil penelitian atau hasil pemikiran:
a. Memiliki ISBN
b. Tebal paling sedikit 40 (empat puluh) halaman cetak (menurut format
UNESCO).
c. Ukuran : minimal 15,5 cm x 23 cm.
c. Diterbitkan oleh Badan Ilmiah/Organisasi/Perguruan Tinggi.
e. Isi tidak menyimpang dari falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Ragam Buku yang Peroleh KUM:
1 ) Monograf :

• Substansi :satu hal dalam satu bidang ilmu
• Memenuhi Kaidah penulisan ilmiah yang utuh (rumusan masalah, pemecahan masalah, dukungan teori mutakhir, kesimpulan dan daftar pustaka)
• Dalam bentuk buku (referensi)
• Disebarluaskan
• Tebal paling sedikit 40 halaman (15.5 cm x 23 cm)
• Diterbitkan oleh Badan Ilmiah/organisasi/PT
• ISBN, dan diedarkan
• Tidak menyimpang dari Panca Sila dan UUD 1945
• Batas Kepatutan : 1 buku/tahun
• Angka Kredit Maksimal : 20

2 ) Buku Referensi :
• Substansi satu bidang ilmu
• Memenuhi kaidah penulisan ilmiah yang utuh
• Tebal paling sedikit 40 halaman (15.5 cm x 23 cm)
• Diterbitkan oleh Badan Ilmiah/organisasi/PT
• ISBN, dan diedarkan
• Tidak menyimpang dari Panca Sila dan UUD 1945
• Batas Kepatutan : 1 buku/tahun
• Angka Kredit Maksimal : 40

3 ) Buku Teks/Buku Ajar
Buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu matakuliah yang ditulis dan disusun oleh pakar bidang terkait dan memenuhi kaidah buku teks serta diterbitkan secara resmi dan disebar luaskan.
• Diketik dengan komputer huruf Times New Roman (font 12) pada kertas ukuran A4 dengan jarak 1,5 spasi, beserta softcopy dalam CD.
• Jumlah halaman buku tidak kurang dari 200 halaman, tidak termasuk Prakata, Daftar Isi, dan Lampiran.
• Unsur buku yang harus ada: (1) Prakata, (2)Daftar Isi, (3) Batang tubuh yang terbagi dalam bab atau bagian, (4) Daftar Pustaka, (5) Glosarium, (6) Indeks (sebaiknya).
• Penulisan Buku Ajar termasuk dalam kegiatan melaksanakan pengajaran, yaitu mengembangkan bahan pengajarantahun (tabel 1 item no. 11)
• Angka kredit 20 per buku
– Batas Kepatutan Buku Ajar/Buku Teks : 1 Buku/Tahun

4 ) DIKTAT, adalah :
• Bahan Ajar Untuk Suatu Mata Kuliah
• Ditulis oleh Pengajar Mata Kuliah Tersebut
• Mengikuti Kaidah Penulisan Ilmiah
• Disebarluaskan Kepada Peserta Kuliah
• Angka Kredit Maksimal : 5

5 ) MODUL, adalah :
• Bagian dari Bahan Ajar
• Ditulis oleh Pengajar Mata Kuliah Tersebut
• Mengikuti Kaidah Penulisan Ilmiah
• Disebarluaskan Kepada Peserta Kuliah
• Angka Kredit Maksimal : 5

6 ) Penuntun Praktikum, adalah :
• Pedoman Pelaksanaan Praktikum
• Disusun oleh Kelompok Dosen
• Mengikuti Kaidah Penulisan Ilmiah
• Angka Kredit Maksimal : 5

7 ) Model, adalah :
• Alat Peraga
• Menjelaskan Fenomena Dalam Kuliah
• Meningkatkan Pemahaman Peserta Kuliah
• Angka Kredit Maksimal : 5
Batas Kepatutan untuk No.4-7 : 1 Diktat/Semester



Sudah tidak asing lagi di telinga kita dengan istilah ‘modul’. Modul sangat erat kaitannya dengan pelajaran atau mata kuliah di perguruan tinggi atau di lembaga-lembaga pendidikan formal maupun nonformal.

Modul adalah semacam paket program untuk keperluan belajar. Sedangkan modul pembelajaran adalah satuan program belajar mengajar  yang terkecil, yang dipelajari oleh pelajar didik sendiri secara perseorangan atau diajarkan oleh peserta didik kepada dirinya sendiri (self-instructional).

Mengapa modul diperlukan dalam pembelajaran di perguruan tinggi?

Ketika dosen menyampaikan materi kuliah dengan metode standar terkadang sering tidak efektif. Hal ini dikarenakan banyak hal yang menjadi kendala, yaitu:

(1) Kurangnya waktu untuk menyampaikan secara baik semua materi sesuai silabus.

(2) Kurangnya media visualisasi yang baik.

Karena permasalahan tersebut, maka banyak dosen berinisiatif menyusun modul agar materi mata kuliah yang harus disampaikan kepada mahasiswanya selama satu semester dapat tersampaikan secara keseluruhan. Dengan adanya modul, mahasiswa dapat dengan mudah mempelajarinya di rumah, walaupun materi tersebut belum disampaikan dosen.

Begitu juga dengan dosen yang menyampaikan mata kuliah tersebut. Dosen dapat dengan mudah merancang dan menyusun materi perkuliahan selama satu semester. Dalam proses belajar mengajar, dosen dan mahasiswa dapat dengan mudah mengontrol materi apa yang sudah disampaikan dan yang belum disampaikan. Sehingga, dalam proses belajar mengajar akan lebih asyik dan menyenangkan.

Di samping itu, kelebihan dan keuntungan lain bagi dosen itu sendiri adalah modul tersebut dapat diajukan menjadi salah satu syarat memperoleh KUM. Dimana nilai yang diberikan DIKTI adalah sebesar 5 poin. Sehingga dosen tidak hanya memberikan keuntungan dalam proses belajar mengajar saja bagi dosen, tetapi mendapatkan nilai atau poin bagi dosen itu sendiri sebagai salah satu penunjang dalam berkarier.

Lebih dari itu, sebenarnya dosen juga bisa lebih mendapatkan pion lebih besar dari dosen. Dimana dosen tersebut bisa mendapatkan 20 poin.

Bagaimana cara mendapatkan poin lebih banyak dari poin tersebut?

Cara terbaik adalah dengan menerbitkan modul tersebut menjadi buku ajar. Tentunya merubah modul menjadi buku ajar tidak mudah. Otomatis dosen harus menyerahkan modul tersebut ke penerbit untuk diterbitkan.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh dosen untuk menerbitkan modul menjadi buku ajar.

1. Dosen harus lebih melengkapi lagi isi modul tersebut dengan penjelasan-penjelasan yang mudah dipahami oleh pembaca.

2. Modul yang sudah lengkap dengan penjelasan isinya, diserahkan ke penerbit untuk diterbitkan.

3. Modul tersebut akan diproses oleh penerbit, apakah modul tersebut layak terbit atau tidak.

4. Jika modul tersebut layak terbit, maka penerbit selanjutnya akan memproses naskah modul tersebut menjadi buku ajar. Dan jika tidak, maka naskah modul tersebut akan dikembalikan kepada dosen sebagai penulisnya.

Modul tentunya akan berbeda dengan buku ajar. Dimana modul tidak memerlukan penerbit yang menerbitkan. Sedangkan buku ajar harus penerbit yang menerbitkannya. Di samping itu, modul tidak harus memakai ISBN, sedangkan buku ajar perlu adanya ISBN. Karena jika ada ISBN berarti buku ajar tersebut sudah terdaptar di PERPUSNAS.

Nah, jika bapak dan ibu dosen ingin mendapatkan poin lebih dari poin yang diperoleh dari modul, maka bapak dan ibu harus menjadikan modul tersebut menjadi buku ajar. Caranya dengan menyerahkan modul tersebut ke penerbit untuk diterbitkan.

Jika bapak dan ibu masih bingung, silahkan bertanya ke kami tentang bagaimana menerbitkan modul menjadi buku ajar. Kami siap melayani dan menjelaskannya.

Kami juga menerima modul-modul mata kuliah yang bapak dan ibu ampu. Karena dengan cara menerbitkan modul menjadi buku ajar akan lebih banyak keuntungan bagi bapak dan ibu.

B575 ID

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget