Muhammad Abduh

Muhammad Abduh merupakan seorang intelektual muslim dari Mesir dan termasuk tokoh pembaharu Islam.

Muhammad Abduh merupakan seorang intelektual muslim dari Mesir dan termasuk tokoh pembaharu Islam. Ia lahir di Mesir, pada 1265 H/1849 M, dan wafat di Kairo, pada 1323 H/11 Juli 1905 M. Ayahnya bernama Abuh Hasan Khairullah dari Turki, dan dari ibunya mempunyai silsilah keturunan sampai Umar bin al-Khatab, khalifah kedua dari al-khulafa' ar-Rasidun (empat khalifah besar).

Muhammad Abduh sejak usia 12 tahun telah menghafal isi Alquran. Ia bersekolah di perguruan agama di Masjid Ahmadi yang terletak di desa Thanta, kemudian melanjutkan studinya ke Universitas Al-Azhar, Kairo.
Setelah Abduh menamatkan kuliah pada 1877, atas usaha Perdana Menteri Mesir, Riadh Pasya, ia diangkat menjadi dosen bidang ilmu etika dan sejarah di Perguruan Tinggi Dar al-'Ulum. Di samping itu, ia juga menjadi dosen di bidang ilmu logika, teologi dan filsafat pada Universitas al-Azhar. Di dalam memangku jabatan itu, ia terus mengadakan perubahan-perubahan radikal sesuai dengan cita-citanya, yaitu memasukan ide-ide pembaharuan ke dalam perguruan-perguruan tinggi Islam, menghidupkan Islam dengan perkembangan zaman, serta melenyapkan cara-cara tradisional.

Di sisi lain, Abduh pernah diberi tugas oleh pemerintah untuk memimpin Majalah al-Waqai' al-Mishriyyah (peristiwa-peristiwa Mesir), yang menyiarkan berita penting dan artikel tentang kepentingan nasional Mesir. Dengan majalah ini, ia mendapat kesempatan untuk menyampaikan suara hatinya, baik mengenai masalah ilmu pengetahuan serta pembaharuan maupun masalah politik kepada masyarakat dan pemerintah.

Pada 1879 pemerintah Mesir berganti dengan yang lebih kolot dan reaksioner (Khediv Isma'il diganti oleh anaknya, Taufiq Pasya). Pemerintah ini mengusir al-Afghani karena ia dituduh mengadakan gerakan yang menentang pemerintah Mesir. Abduh yang dipandang turut terlibat dalam gerakan itu, dipecat dari jabatannya dan diusir ke luar Kairo.

Tiga tahun kemudian di Mesir terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh perwira-perwira tinggi militer. Pemberontakan itu didahului oleh suatu gerakan yang dipimpin oleh 'Urabi Pasya (pimpinan perwira militer dan golongan nasionalisme Mesir). Dalam gerakan itu, Abduh menjadi penasihatnya. Setelah pemberontakan itu dapat dipadamkan, Abduh dibuang ke Bairut. Di sini ia mendapatkan kesempatan mengajar pada Perguruan Tinggi Sulthaniyyah. Atas panggilan al-Afghani pada 1884 ia pergi ke Paris. Prancis. Namun tahun berikutnya ia kembali ke Bairut.

Pada 1888 ia diijinkan kembali ke Mesir, tetapi belum boleh mengajar di Universitas al-Azhar. Tahun berikutnya ia diserahi jabatan Mufti Mesir yang bertugas memberi fatwa terhadap persoalan-persoalan yang ditanyakan kepadanya. Jabatan ini dipangkunya sampai ia wafat. Abduh juga pernah diserahi jabatan hakim dan dalam tugas ini dikenal sebagai seorang yang adil. Pada 1894 ia diangkat menjadi anggita majelis tertinggi yang mewakili Universitas al-Azhar. Sebagai anggota majelis ini ia membawa perubahan dan perbaikan terhadap Universitas al-Azhar.

Di bidang fiqih, Muhammad Abduh, berpendapat bahwa semangat hukum Islam adalah ijtihad. Tanpa ijtihad, hukum Islam tidak memiliki daya menghadapi kehidupan masyarakat yang selalu berkembang. Menurutnya, dalam berijtihad, taklid kepada ulama kelasik tidak perlu dipertahankan, bahkan harus dilenyapkan, karena taklid inilah yang membuat umat Islam mengalami kemunduran. Taklid menghambat perkembangan pemikiran umat Islam dalam bidang hukum, pendidikan dan lain-lain. Sikap ulama berpegang teguh pada pendapat ulama kelasik dipandang sebagai bertentangan dengan ajaran Alquran dan Hadits yang melarang taklid.

Dengan demikian ijtihad dilakukan dengan merujuk pada Alquran dan Hadits sebagai sumber asli hukum Islam. Pendapat ulama lama tidak mengikat, bahkan ijma' mereka dalam bidang hukum tidak bersifat ma'shum (terpelihara dari kesalahan). 

Lapangan ijtihad adalah bidang muamalah yang ayat-ayat dan hadits-haditsnya bersifat umum dan jumlahnya sangat sedikit. Hukum-hukum kemasyarakatan inilah yang perlu disesuaikan dengan zaman. Soal ibadah, yang merupakan hubungan manusia dengan Tuhannya, bukan antara manusia dengan manusia, tidak menghendaki perubahan. Oleh karena itu, ibadah bukan merupakan lapangan ijtihad

Abduh lebih memilih bidang muamalah menjadi lapangan ijtihad, karena ijtihad dalam bidang muamalah sangat terbuka ruang gerak ijtihad dan luas cakupannya. Salah satu sub-bidang dari muamalah adalah menyangkut masalah ekonomi. Dalam masalah ekonomi, menurut Abduh, lebih ditekankan kepada kesungguh-sungguhan kita dan salah satu karya ijtihad para ulama bidang muamalah (ekonomi) adalah dengan munculnya lembaga-lembaga keuangan syariah.

Munculnya lembaga-lembaga keuangan syariah, khususnya bank syariah, merupakan hasil ijtihad para ulama yang menselaraskan tradisi ekonomi pada masa Rasulullah SAW. dengan praktik ekonomi pada masa sekarang yang disaring dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah syariah. Disinilah muncul bank syariah yang tidak didasarkan pada bunga (fee interest banking), tetapi didasarkan pada prinsip-prinsip bagi hasil yang sesuai dengan kaidah-kaidah syariah.
Tags:
Reaksi:

Posting Komentar

B575 ID

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget