Sistem Ekonomi Dalam Islam

Ekonomi Islam merupakan salah satu sistem ekonomi yang berkembang dan mulai banyak negara yang memperhatikannya. Ekonomi Islam sebagai suatu sistem ekonomi yang sangat mendasar yang laihr bukan dari dan atas pemikiran manusia.



Ekonomi merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan individu, kelompok masyarakat, suatu negara, bahkan dunia secara gelobal. Ekonomi sebagai komponen yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Sehingga keberadaannya begitu didambakan, bahkan kebanyakan dari masyarakat sampai men-Tuhan-kannya.

Bukan tanpa alasan. Terlihat jelas dari kebanyakan individu, kelompok masyarakat, dan juga negara akan berani berkelahi atau bertarung demi mempertahankan apa yang dinamakan ekonominya masing-masing. Sudah pasti ada reaksi dari individu, kelompok masyarakat, atau negara apabila hak-hak ekonominya terusik oleh individu, kelompok masyarakat, atau negara lain atas dirinya.

Begitu pentingnya ekonomi dalam suatu kehidupan manusia, penguasa (dalam hal ini adalah negara) mengatur mekanisme dan sistem ekonomi yang dianutnya ke dalam sebuah undang-undang. Peraturan tersebut tentunya berdasarkan atas kesepakatan-kesepakatan masyarakat di negara tersebut. Dengan begitu, negara tersebut sudah pasti akan terlihat dengan jelas sistem ekonomi yang dianutnya. 

Ekonomi Islam merupakan salah satu sistem ekonomi yang berkembang dan mulai banyak negara yang memperhatikannya. Ekonomi Islam sebagai suatu sistem ekonomi yang sangat mendasar yang laihr bukan dari dan atas pemikiran manusia. Tapi ia lahir dari Tuhan sebagai sebuah aturan yang diharuskan untuk dijalankan oleh setiap individu dalam menjalankan aktivitas ekonominya. Tuhan tidak mungkin menurunkan aturan atau landasan tersebut tanpa alasan yang jelas. Hal ini jelas, Tuhan menginginkan makhluknya (dalam hal ini adalah manusia) dalam menjalani menjalankan aktivitas ekonominya di muka bumi ini memiliki aturan yang pasti yang tidak hanya mementingkan dirinya sendiri dan juga merugikan orang lain.


Berkaitan dengan sistem ekonomi Islam di Indonesia, para tokoh agama sadar betul bahwa nilai-nilai Islam bukan hanya dipakai oleh umat Islam pada saat di masjid (ibadah mahdoh) saja, tapi juga harus dijalankan di setiap kegiatan individu umat Islam itu sendiri. Artinya, Individu umat Islam harus juga menerapkan nilai-nilai dalam kegiatan ekonomi dan sosial. Tentunya ini diharapkan agar umat Islam menjalankan ajaran Islam dengan kaffah (bersungguh-sungguh atau total).

Berbicara mengenai ekonomi Islam saat dewasa ini begitu banyak kemajuan dan berkembang dengan cepat. Buktinya adalah banyaknya lembaga-lembaga perekonomian baik bisnis maupun keuangan yang melaksanakan usahanya dengan berdasarkan syariat Islam, seperti: bank syariah, asuransi syariah, hotel syariah, dll.

Bukti lain dari ekonomi Islam yang mampu memberikan sumbangan dalam memajukan perekonomian adalah zaman kekhalifahan Islam. Dimana pada zaman itu merupakan puncak kejayaan umat Islam atau disebut sebagai zaman keemasan Islam. Padahal di belahan dunia barat sedang mengalami zaman kegelapan (dark ages). Namun disayangkan zaman keemasan tersebut tidak bisa dipertahankan oleh umat Islam itu sendiri. Hal ini dikarenakan terjadinya distorsi dari syariah Islam yang nilai-nilainya sangat universal. Sehingga umat Islam sendiri tidak menutup mata bahwa yang menguasai aktivitas ekonomi adalah orang-orang barat yang notabene mereka lahir karena terinspirasi dari nilai-nilai yang diterapkan oleh umat Islam pada zaman keemasan tersebut. Di samping itu juga, negara-negara barat mengalami kebangkitan pada saat umat Islam lengah dan terlena dengan keadaan yang sedang dinikmatinya pada saat itu. Dari kelengahan tersebut maka negara-negara barat dengan mudahnya menguasai perekonomian umat Islam di hampir semua penjuru dunia.

Dengan sekian lamanya umat Islam berada pada cengkraman ekonomi negara-negara barat, maka para tokoh Islam menyadari betul bahwa ternayata sangat penting untuk menggali lagi nilai-nilai dan metode serta cara mengelola perekonomian yang berdasarkan syariah. Apalagi permintaan terhadap metode ini merupakan kebutuhan umat dan masyarakat.

Bukan saja terbukti pada saat zaman keemasan, ekonomi Islam juga terbukti kehandalannya di Indonesia. Dimana pada saat terjadinya krisis moteter yang membawa pada krisis perekonomian dan multidimensional (1998), bank-bank syariah mampu survive dan terhindar dari krisis perbankan dan rekapitalisasi perbankan. Ini terbukti bahwa sistem ekonomi Islam yang tidak memungkinkan adanya negative spread.

Perlu diketahui, bahwa ekonomi Islam pada hakikatnya bukanlah sebuah ilmu yang lahir atas dasar adanya sikap reaksioner terhadap fenomena ekonomi konvensional. Bahkan, ternyata ekonomi Islam lahir jauh sebelum lahirnya sistem ekonomi kafitalis-liberal dan sistem ekonomi sosialis-komunis. Sebagai sebuah agama, Islam tentunya diyakini sebagai konsep hidup manusia yang harus dijalankan oleh para penganutnya (umat Islam). Konsep hidup tersebut tetunya melingkupi sektor ekonomi sebagai salah satu aktivitas hidup manusia.Jadi ekonomi Islam dapat dikatakan sebagai sebuah aktivitas agama atau ibadah umat Islam dalam berekonomi.

Banyak sistem perekonomian yang lahir dari berbagai pemikiran para ahli ekonomi dunia. Dimana system itu dicetuskan sebagai sebuah solusi atas permasalahan yang timbul di suatu Negara atau daerah yang diharapkan dapat menyelesaikan permasalaan-permasalahan tersebut secara tepat dan akurat. Namun, kenyataannya lain dengan apa yang diharapkan tersebut. Dari system perekonomian tersebut ternyata tidak menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi secara tepat dan akurat, walaupun secara sepintas dan sementara dapat terlihat seperti menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Dengan begitu, maka system perekonomian tersebut tidak mampu memberikan jaminan sosial terhadap rakyatnya.

Ekonomi Islam – sebagaimana disinggung di atas –lahirsebagai solusi karena Islam merupakan risalah yang sempurna yang memenuhi segala aspek kehidupan termasuk kegiatan ekonomi.

Sistem ekonomi Islam tentunya berbeda dengan sistem yang telah diterapkan di berbagai negara di dunia. Sistem ekonomi Islam tidak hanya mementingkan keuntungan dunia semata. Namun juga keuntungan akhirat. Ekonomi Islam dapat didefinisikan sebagai sebuah studi tentang pengelolaan harta benda menurut perspektif Islam. Disiplin ilmu ekonomi Islam normatif yaitu studi tentang hukum-hukum syariah yang berkaitan dengan urusan harta benda (al-mal) yang cakupannya kepemilikan, pemanfaatan kepemilikan dan distribusi kekayaan kepada masyarakat.

Ketiga cakupan tersebut tentunya sangat erat kaitannya dengan tujuan hidup manusia sebagai hamba Tuhan. Dimana segala aktivitas yang dilakukan oleh setiap individu pasti ada balasannya di akhirat kelak. Oleh sebab itu, Islam mengatur mengenai kepemilikan dari harta setiap individu. Di samping itu, tentunya Islam juga mengatur cara bagaimana si pemilik harta tersebut dalam memanfaatkannya serta cara mendistribusikannya kepada orang lain.


Sebelum membahas mengenai ekonomi Islam, tentunya setiap individu umat Islam harus memahami mengenai tujuan hidupnya. Dimana dari tujuan hidup itu sendiri nantinya dapat memahami mengenai apa sebenarnya tujuan dari diturunkannya syariat (dalam hal ini Alquran dan Assunnah) bagi umat manusia. Sehingga individu-individu umat Islam tersebut dapat dengan mudah memahami mengenai Ekonomi Islam.
Tags:
Reaksi:

Posting Komentar

B575 ID

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget