Pengertian ADIL

'Adil adalah salah satu sifat yang harus dimiliki oleh manusia dalam rangka menegakkan kebenaran kepada siapa pun tanpa kecuali, walaupun akan merugikan dirinya sendiri.

'ADIL atau al-'adl dalam bahasa arab secara etimologis berarti seimbang, tidak berat sebelah, tidak memihak, atau menyamakan sesuatu dengan yang lain (al-musawah). Istilah lain dari al-'adl adalah al-qist, al-mitsl (sama bagian atau semisal).

'Adil adalah salah satu sifat yang harus dimiliki oleh manusia dalam rangka menegakkan kebenaran kepada siapa pun tanpa kecuali, walaupun akan merugikan dirinya sendiri. 'Adil berarti mempersamakan sesuatu dengan yang lain, baik dari segi nilai maupun dari segi ukuran, sehingga sesuatu itu menjadi tidak berarti sebelah dan tidak berbeda satu sama lain. 'Adil juga berarti berpihak atau berpegang kepada kebenaran. Keadilan menitikberatkan kepada pengertian meletakan sesuatu pada tempatnya.
Ibnu Qudimah (seorang ahli fiqih Mazhab Hambali) mengatakan bahwa keadilan merupakan sesuatu yang tersembunyi, motivasinya semata-mata karena takut kepada Allah SWT.

Dalam beberapa bidang hukum Islam, penyertaan 'adil sangat menentukan benar atau tidaknya dan sah atau batalnya suatu pelaksanaan hukum. Dalam Alquran banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk berlaku 'adil dalam segala hal. Diantaranya ayat tersebut adalah perintah agar manusia berlaku 'adil dan berbuat kebajikan serta menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar (QS. An-Nahl: 9); perlakuan 'adil wajib diteguhkan terhadap siapa saja, kendati terhadap orang yang tidak seagama (QS. Asy-Syu'ara; 15); alasan apapun tidak diterima untuk tidak berlaku 'adil, termasuk ketidaksenangan terhadap orang tertentu (QS. Al-Maidah: 8); dan berlaku 'adil akan lebih mendekatkan ketaqwaan seseorang kepada Allah SWT. (QS. Al-Maidah: 8).

Dalam Islam, 'adil merupakan norma paling utama dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk perekonomian. Hal itu dapat dimengerti dalam pesan Alquran yang menjadikan 'adil sebagai tujuan agama samawi. Malah, 'adil adalah salah satu asma ALlah SWT. Kebalikan sifat 'adil adalah dzalim.

Jika dalam tatanan Islam adalah keseimbangan yang 'adil. Hal ini terlihat jelas pada sikap Islam terhadap pada sikap individu dan masyarakat. Kedua hak itu diletakkan dalam neraca keseimbangan yang 'adil (pertengahan) tentang dunia dan akhirat, jiwa, raga, akal dan hati, termasuk perumpamaan dan kenyataan.

Ekonomi yang 'adil tidak menzalimi masyarakat, khususnya kaum lemah sebagaimana yang terjadi pada masyarakat kapitalis. Islam juga tidak menzalimi hak individu sebagaimana yang dilakukan kaum sosialis, terutama komunis, tetapi di tengah-tengah antara keduanya.

Oleh sebab itu, Islam mencegah bai' al-gharar, jual beli karena ketidaktahuan kondisi suatu barang yang menrugikan satu pihak dan menimbulkan kezaliman. Atas dasar hal tersebut muamalah yang didalamnya terdapat unsur penipuan dilarang. Demikian halnya dengan larangan terhadap bai' al-mudhthar (terpaksa).

Islam menetapkan adanya kebebasan, tetapi apakah kebebasan itu tanpa batas? Tidak ada kebebasan yang mutlak atau mirip mutlak yang dianjurkan kaum kapitalis atau pemerataan ekonomi mutlak yang diimpikan orang-orang komunis. Keduanya bukan keutamaan yang terpuji, malah merupakan noda akhlak terkutuk.

Kebebasan ekonomi yang disyariatkan Islam sendiri bukan kebebasan mutlak yang terlepas dari berbagai ikatan seperti yang diduga oleh kaum Syu'aib, "Sesungguhnya kami berbuat dengan harta kami sesuka kami." (QS. Hud: 87). Kebebsan itu adalah kebebasan yang terbatas, terkendali dan terikat dengan keadilan yang diwajibkan Allah SWT. Pada dasarnya, manusia memiliki tabiat yang seringkali kontradiktif, yang diciptakan Allah dengan hikmah agar kemakmuran di muka bumi terwujud.

Oleh sebab itu, pilar kebebasan ekonomi yang berdiri di atas penghargaan terhadap fitrah an kemuliaan manusia harus disempurnakan dengan pilar yang lain, yaitu pilar keadilan. Sebab, ketika Allah SWT. mewajibkan tiga hal, yang pertama adalah keadilan. Firman Allah SWT: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat." (QS. An-Nahl: 90). Demikian halnya ketika Ia menyuruh dua perkara, salah satunya adalah keadilan. Dan ketika Ia mengajak satu etika, keadilanlah yang disebut.
Tags:
Reaksi:

Posting Komentar

B575 ID

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget