Apa itu ABDAN?

Abdan adalah perseroan antara dua orang atau lebih dengan badan masing-masing pihak, tanpa harta dari mereka.

Abdan adalah perseroan antara dua orang atau lebih dengan badan masing-masing pihak, tanpa harta dari mereka. Dengan kata lain, mereka melakukan perseroan dalam pekerjaan yang mereka lakukan dengan tangan-tangan mereka, atau dengan tangan mereka, misalnya melakukan kerja tertentu, baik pemikiran maupun fisik seperti pengrajin melakukan perseroan untuk bekerja pada industri-industri mereka. Sedangkan apa yang menjadi keuntungan mereka, akan dibagi di antara mereka. Sebagaimana perseroan para insiyur, dokter, pemburu, kuli angkut kayu, pengacara, sopir mobil, dll.
Di antara persero tidak harus ada kesamaan dalam masalah keahlian, dan tidak harus semua persero yang melibatkan dalam perseroan tersebut terdiri dari para pengrajin. Oleh karena itu, apabila para pengrajin dengan beragam keahliannya telah melakukan perseroan tersebut, maka perseroan tersebut hukumnya mubah. Apabila mereka melakukan perseroan untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan, misalnya yang satu memimpin perseroan, lalu yang lain mengeluarkan biayanya, sementara yang lain lagi mengerjakan dengan tangannya, maka perseroan tersebut hukumnya sah. Jadi, apabila para pekerja dalam suatu perusahaan melakukan perseroan, baik semua perseronya mengerti tentang industri atau yang mengerti hanya sebagian sementara yang lain tidak, kemudian semuanya melakukan perseroan dengan para pengrajin, pekerja, juru tulis dan penjaga yang semuanya menjadi persero dalam perusahaan tersebut, maka itu pun hukumnya mubah. Hanya saja syarat pekerjaan yang dilakukan dalam perseroan dengan tujuan mencari keuntungan tersebut harus pekerjaan yang mubah. Apabila pekerjaan tersebut haram, maka perseroan dalam rangka melakukan pekerjaan tersebut hukumnya haram.

Pembagian laba dalam perseoran abdan ini sesuai apa yang menjadi kesepakatan mereka. Bisa jadi sama, atau bisa jadi tidak. Sebab pekerjaan tersebut layak memperoleh keuntungan, dan karena orang yang melakukan perseroan tersebut bisa berbeda-bieda dalam melakukan pekerjaan, maka keuntungan yang diperoleh juga berbeda-beda. Mereka, masing-masing berhak mendapatkan upah dari pihak yang mengontrak mereka, sekaligus mendapatkan harga barang yang mereka produksi dari pihak pembeli. Sedangkan pihak yang mengontrak mereka atau yang membeli barang-barang yang mereka produksi, berhak membayar seluruh upah atau harga semua barang kepada mereka. Dan, siapa saja yang telah dibayar, maka dia telah lepas haknya.

Apabila seorang persero melakukan pekerjaan, sedangkan persero lainnya tidak, maka hasil kerja tersebut tetap berlaku bagi mereka. Sebab pekerjaan tersebut sebenarnya mereka pikul bersama-sama. Sehingga dengan adanya saling tanggung di antara mereka untuk melakukan pekerjaan tersebut, maka wajib diberi upah. Sehingga pekerjaan tersebut menjadi hak mereka. Salah seorang di antara mereka tidak boleh mewakilkan kepada orang lain sebagai persero dengan badan orang yang bersangkutan, sebagaimana salah seorang di antara mereka tidak boleh mengontrak seorang 'ajir sebagai persero dengan badannya. Sebab, transaksi perseroan tersebut mengikat dzat (tubuh) seseorang. Sehingga orang yang bersangkutan harus melakukan pekerjaan itu sendiri, karena yang menjadi perseronya adalah badannya, dan badannya itulah yang ditentukan dalam perseroan tersebut. Namun, salah seorang di antara mereka boleh mengontrak seorang ajiir karena kontrak tersebut dari dan untuk perseronya, meskipun hal itu dilakukan oleh salah seorang dari persero. Dan, dia (ajiir) tersebut bukan sebagai pengganti, tindakan masing-masing persero tersebut adalah tindakan suatu perseroan. Dan mereka, masing-masing terkait dengan pekerjaan yang diterima (disepakati) oleh perseroannya.

Perseroan semacam ini hukumnya adalah mubah. Hal ini didasarkan atas Hadits Nabi SAW.:

Dari Ubaidah dari bapaknya, Abdullah bin Mas'ud yang mengatakan: "Aku Ammar bin Yasir dan Sa'ad  bin Abi Waqqash melakukan sirkah (perseroan) apa yang kami dapatkan pada perang Badar, kemudian Sa'ad membawa dua orang tawanan perang, sementara aku dan Ammar tidak membawa apa-apa." (HR. Abu Daud dan Al-Atsram) 

Tindakan mereka itu dibiarkan oleh Rasulullah SAW. Imam Ahmad bin Hambal berkata: "Nabi SAW, melakukan syrkah (perseroan) sekelompok sahabat dengan badan-badan mereka untuk melakukan pekerjaan, yaitu memerangi musuh, kemudian membagi ghanimah yang mereka peroleh, apabila mereka memperoleh keuntungan dalam perang." Adapun persyaratan yang mengatakan, bahwa hukum ghanimah bertentangan dengan perseroan, itu tentu tidak bisa dibuktikan dengan hadits ini. 
Tags:
Reaksi:

Posting Komentar

B575 ID

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget