Cara Mempertahankan Perusahaan Anda Agar Tetap Berada di Puncak

Cara memulai usaha, cara berbisnis yang baik, kiat bisnis, tips bisnis, kiat sukses bisnis, memulai bisnis, trik usaha, inspirasi bisnis

Seorang pebisnis belum bisa dikatakan bahwa dirinya merupakan seorang pebisnis sukses jika hanya mampu membangun perusahaan saja. Sementara untuk mempertahankan perusahaannya tersebut berada dalam posisi puncak belum mampu. Itu artinya, soerang pebisnis sukses adalah orang yang dapat mempertahankan perusahaannya berada pada posisi puncak. 

Pebisnis bukan sekedar jual atau menawarkan barang saja. Tapi pebisnis juga harus bisa membangun sebuah perusahaan yang secara legalitas pormalnya dapat dipertanggungjawabkan. Bukan hanya itu, seorang pebisnis mampu mewujudkan perusahaannya dari kecil menjadi besar. Sehingga perusahaan dapat diperhitungkan oleh pebisnis lain.


Tantangan berat bagi pelaku bisnis adalah proses membangun sebuah perusahaan menjadi besar. Proses membangun perusahaan sangat perlu perjuangan yang luar biasa. Makanya banyak pelaku bisnis yang mengatakan bahwa membangun perusahaannya dilakukan dengan berdarah-darah. Itu sebabnya, banyak pelaku bisnis yang tidak mampu dan banyak yang gagal dalam proses ini. 

Pelaku bisnis dalam membangun sebuah perusahaan memiliki banyak tantangan. Bukan saja tantanga dari luar, tapi juga tantangan dari dalam diri pelaku bisnis itu sendiri. Justru tantangan dari luar sangat mudah untuk diselesaikan atau dicari jalan keluarnya (solusi). Beda halnya dari dalam diri sendiri. Dimana si pelaku terkadang nyerah sebelum bertarung. Karenanya banyak diantara pelaku bisnis yang gagal memberi alasan yang klasik dan terkadang hanya membela diri saja. 

Apa alasan pelaku bisnis yang gagal dalam menjalankan bisnisnya?

Pelaku bisnis tumbuh seperti jamur. Dengan mudah dan gampangnya mereka membangun sebuah perusahaan dari idenya atau ide orang lain. Namun, tidak sedikit juga yang gugur sebelum berkembang. Sehingga mereka yang gagal merasa bahwa dirinya tidak mampu dalam menjalankan bisnisnya. 

Dari kegagalan-kegagalan yang dialaminya maka mereka memberi alasan-alasan sederhana tapi memang klasik. Alasan tersebut terkadang memang sekilas dapat dipahami. Tapi jika dipikir lagi, sebenarnya alasan tersebut tidak perlu dilontarkan. Dari alassan tersebut juga dapat dipahami sebagai sebuah ketidak beranian dan tidak ada kesungguhan dalam diri mereka. 

Alasan yang sering terlontar dari mereka adalah:
1. Bisnis yang dijalankannya sudah banyak pesaing. Sehingga dirinya gagal menjalankan bisnis tersebut.
2. Produk yang diproduksi atau dibuatnya sudah banyak dipasaran yang sudah terlebih dahulu terkenal lama. 
3. Menggunakan modal kecil. Sementara yang sudah terlebih dulu berdiri menggunakan modal besar.Artinya, gak mungkin menyaingi mereka yang memiliki modal besar.
4. Perut harus tetap diisi dan tidak bisa menunggu sampai usahanya berhadil. Artinya, mereka tidak sabar dalam mendapatkan hasil. 
5. Bukan hoki saya di bisnis tersebut. Karena itu gagal. Dan, tidak mungkin bisa dijalankannya.

Itulah beberapa alasana mereka pelaku bisnis yang gagal atau gugur sebelum berkembang. 

Namun, banyak juga yang meraih kesuksesan dalam membangun bisnisnya. Mereka mampu melewati tantangan dari luar dan dari dalam dirinya. Alasan-alasan di atas tidak berlaku bagi dirinya. Sehingga mereka menikmati hasil perjuangannya yang berdarah-darah itu. Mereka mampu menikmati hidup dengan materi yang tidak kurang. Kehidupannya berubah drasttis. Yang tadinya makan saja seadanya dan jarang sekali mengunjungi pusat perbelanjaan atau tempat rekseasi, sekarang mereka bisa mendapatkan itu semua. 

Teratpi selanjutnya adalah menghadapi tantangan yang amat berat bila dibandingkan dengan tantangan pada saar mereka membangun perusahaan. Dan, tantangan ini terkadang tidak disadari oleh mereka. Sehingga tidak sedikit yang hancur dan terjun bebas ke dasar keterpurukan, bahkan lebih buruk daripada kondisi pada saat mereka mulai membangun perusahaan. 

Oleh sebab itu, perlu diperhatikan bagi mereka yang sudah meraih kesuksesan dalam membangun sebuah usaha. Yaitu, tantangan dalam mempertahankan perusahaannya dalam posisi puncak.

Kelemahan mereka dalam mempertahankan perusahaan dalam posisi puncak adalah mereka sudah merasa cukup dan puas atas perusahaan mereka. Di samping itu, mereka sudah merasa bahagia atas keberhasilannya. Mereka terlena dengan kondisi perusahaan yang sudah mengalami posisi puncak.

Padahal di sisi lain, banyak pengusaha-pengusaha mudah yang datang dan lebih kreatif dalam membangun perusahaan. Mereka dapat menganalisis tantangan yang dihadapinya. Mereka pemikir keras dalam membangun dan menganalisis tantangan dan rintangan yang sendang dihadapinya. 

Ketiika datang pengusaha baru yang cerdas dan mempunyai daya juang yang keras maka mereka yang sedang dalam posisi puncak lambat laun akan tergerus dan menurun secara perlahan. Sementara gaya hidupnya sudah tidak bisa lagi menyesuaikan dengan kondisi perusahaan. Akhirnya, bukan malah tambah maju, yang terjadi adalah turun dengan begitu cepat.

Itu sebabnya, bagi pengusaha yang sudah sukses dalam membangun perusahaannya dan sedang dalam posisi puncak harus tetap cerdik, memiliki daya analisi yang kuat, dan tetap semangat dalam menjalankan perusahaannya. Agar, ketika datang pengusaha baru mereka tidak mudah begitu saja disaingi. 

Saya teringat dengan ucapan seorang pengusaha sukses. Dia adalah Indra. 

Pada saat berbincang-bincang di warung kopi, dia cerita tentang analisisnya terhadap perusahaan rekannya yang mampu mempertahankan kejayaannya. Bukan hanya itu, malah perusahaan tersebut terus menanjak walaupun lambat. 

Dari hasil analisi yang dilakukan oleh Indra tersebut ternyata (para pengusaha yang dapat mempertahankan bisnisnya) strategi yang dilakukannya adalah melakukan investasi di bidang properti dan tanah. Hal itu dilakukan agar posisi puncak sebuah perusahaan dapat dipertahankan.

Lantas, apa korelasinya antara properti dengan posisi perusahaan?

Korelasi yang didapat adalah ketika perusahaan dalam kondisi prima, maka sebagian keuntungan yang diperoleh harus cepat diinvestasikan pada tanah dan properti. Dan, pada saat posisi perusahaan mengalami stagnan maka kita tidak khawatir lagi akan kondisi perusahaan. 

Ketika kita ingin mengembangkan lagi perusahaan agar naik lagi kondisinya (tidak stagnan), maka memerlukan modal yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, dana yang ada dalam properti dapat digunakan sebagai salah satu modal dalam mengembangkan kembali perusahaan tersebut. Keuntungan lain adalah kalaupun perusahaan itu terjun bebas ke bawah, maka kondisi kita tidak ikut terjun. Karena memang sudah memiliki cadangan dana yang bisa sewaktu-waktu dapat digunakan kembali sebagai modal usaha dalam membangun usaha baru. 

Demikian yang bisa saya sampaikan kepada pembaca. Semoga artikel ini memberikan manfaat.
Tags:
Reaksi:

Posting Komentar

B575 ID

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget